Hampir Tiga Tahun Turun Gunung, Apa Kabar Din Minimi? - Berita Bagus

Mobile Menu

Powered by Blogger.

More News

logoblog

Hampir Tiga Tahun Turun Gunung, Apa Kabar Din Minimi?

12/10/2018
  • Nurdin Bin Ismail alias Din Minimi tengah berbincang di tenda seberang rumahnya Desa Ladang Baro Kecamatan Julok Kabupaten Aceh Timur (15/1/2016) sekitar dua pekan setelah turun gunung. (Arinal Huda/ Objektif ID)


Tulisan ini adalah reportase lawas, diterbitkan sekitar dua tahun lalu di Rakyat Merdeka, salah satu media cetak nasional yang berbasis di Jakarta. Diturunkan kembali dengan beberapa perubahan konten sebagai bahan refleksi: Sudah sejauh mana realisasi amnesti Din Minimi cs yang hampir tiga tahun turun gunung setelah adanya kesepakatan dengan Pemerintah Pusat pada Senin 28 Desember 2015 lalu.


***
Salah satu dari kami keluar mobil, lalu menghadap pos penjagaan. Dia adalah penduduk setempat, aktivis YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh) yang mendampingi kami untuk menemui Nurdin bin Ismail alias Din Minimi, pemimpin kelompok bersenjata asal Kecamatan Julok, Aceh Timur yang baru-baru ini dijanjikan amnesti oleh Presiden Joko Widodo.

Setelah bercakap-cakap beberapa saat, salah satu penjaga keluar dari pos mendekat ke mobil yang kami tumpangi. Kami pun keluar mobil dan memberi salam. 

"Assalamualaikum teungku," ucap saya sembari mengangkat tabik dan bersalaman.

"Waalaikumsalam," jawab, Pria paruh baya berbadan tegap menggunakan pakaian serba hitam mirip seragam Brimob. Tanpa ba-bi-bu, pria berkacamata hitam ini menuntun kami ke pos penjagaan ke dua. 

Di sana, kami disambut oleh pria berbatik, celana bahan, dia sedikit lebih ramah. Namun gestur sangar, tegang dan serius masih kentara, meski mereka tak lagi bersenjata. 

Terlihat, ada tiga lapis penjagaan sebelum sampai di rumah Din Minimi, yang masing-masing berjarak 60 meter. Lapisan pertama, terlihat sekitar 25 orang bersiaga di halaman rumah penduduk, kurang lebih 200 meter dari rumah Din Minimi. Sementara lapisan ke dua, dijaga oleh anggota dalam jumlah yang lebih kecil, waktu itu sekitar delapan orang. Lalu terakhir, tepat di depan rumah di Minimi, di sini ada sekitar 15 orang bersiaga, selebihnya tamu dan warga yang sedang ngopi.

Di tengah keramaian itu, terlihat Din Minimi dengan berpakaian santai, kaos bercorak garis horizontal hitam, coklat, putih dengan celana jins. Di lehernya, masih menggantung id card warna biru milik Juha Christensen, yang sudah mati tanggal, alias expired. Juha adalah aktivis Crisis Management Initiative (CMI), penghubung Din Minimi dengan Kepala BIN Sutiyoso ketika lobi untuk turun gunung waktu itu.

Untuk menuju kediaman Nurdin bin Ismail alias Din Minimi, kami harus berjalan kaki sepanjang kurang lebih 200 meter. Sementara mobil berjalan pelan di belakang.

Sebelum berjalan kaki, mobil yang kami tumpangi sempat melewati medan jalan yang lumayan berat. Jalan menuju kediaman Din Minimi ini belum tersentuh aspal sama sekali. Di kiri-kanan mudah kita temukan rumah beratapkan rumbia. Tapi, sejumlah anak-anak laki-laki bertelanjang dada terlihat riang lari ke sana kemari. Tidak sama sekali terlihat raut sedih.

  • Sekilas, Din Minimi adalah sosok yang tegang dan serius. Namun sesekali Ia juga punya selera humor. ( Arinal Huda/ Objektif ID)


"Bek han tapeugah untuk tabloe baje, tabloe siluweu, bu saboh bungkoh, peng siploh ribe hana. Aneuk yatim, fakir miskin deuk-deuk troe inoe," ujar Muhammad, bekas keuchik kampung Din Minimi dengan mata berkaca-kaca. (Terjemahan: Jangankan untuk beli baju, beli celana, uang sepuluh ribu ngga ada. Anak yatim, fakir miskin lapar-kenyang disini (kurang perhatian pemerintah).

Menyambut kami, Din Minimi langsung mengajak ngobrol di bawah tenda. Ada dua tenda biru yang dipasang didepan rumah. Bak acara pesta pengantin baru. Pasalnya, rumah Din Minimi sejak turun gunung ramai dikunjungi saudara dan kerabat. Beberapa tokoh politik pun juga bertandang, seperti bekas Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, elit GAM Sofyan Dawood, dan anggota DPD-RI Sudirman alias Haji Uma panggilan akrabnya di film Umpang Breuh, serial komedi terkenal di Aceh.

"Dulu tendanya sampai ke sana, cuma sudah dibongkar tinggal dua tenda saja, karena tetangga mau ada hajatan," ujar salah satu warga saat berbincang dengan kami.

Din Minimi memantik rokok, menghisap dalam-dalam, baru kemudian memulai pembicaraan. Sesekali dia terlihat asik memantik-matik korek ketika ditanya beberapa pertanyaan serius. Tapi, Din Minimi mengaku belum kemana-mana.

"Hana bisa jak saho lom, paleng u glee cok kayee masak," kata Din Minimi.

(Belum bisa pergi kemana-mana, paling ke hutan ambil kayu untuk masak)
Termasuk untuk sekedar hanya menjenguk beberapa anggotanya yang kini ditahan di lembaga pemasyarakatan. Mereka ketika kami temui mengaku hanya dikunjungi oleh istri atau keluarga dekat Dien Minimi. Keluarganya sudah pernah mengirimkan uang atau bekal makanan selama di penjara.

***

Dari pintu depan, kami masuk dengan menaiki anak tangga rumah panggung kayu sederhana milik Din Minimi. Setelah mengucap salam, pandangan langsung terpusat pada spanduk ukuran 3x1 meter bercorak bendera partai Aceh dengan foto Muzakkir Manaf di samping kanan.

Padahal bekas panglima GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang kini menjabat sebagai wakil Gubernur Aceh adalah orang yang meminta agar pemilik rumah itu ditangkap. Baik dalam keadaan hidup atau mati! 

Pemberontakan dia terhadap pemerintah Aceh ditanggapi beragam oleh publik. Ada yang mendukung, Adapula yang menuduhnya mencuri panggung. Aksi Din Minimi cs kembali mengangkat senjata pascaperdamaian cukup menyita perhatian publik, tidak hanya dari Jakarta, melainkan juga menjadi sorotan dunia. Tuntutan mereka adalah agar anak yatim, janda korban konflik, dan fakir miskin diperhatikan oleh bekas elit GAM yang kini berkuasa di Aceh.

Din Minimi terdiam lalu menatap tajam, ketika disinggung seringnya pejuang yang menjadikan anak yatim dan fakir miskin sebagai topeng perjuangan. Untuk mendapat simpatik masyarakat. Padahal, ujung-ujungnya adalah untuk kepentingan pribadi.

"Biar disambar petir saja saya. Kalau disambar petir nanti, berarti jalan (perjuangan) saya bukan untuk anak yatim," ujarnya.

Bukan hanya Din, warga lain ketika saya menyinggung persoalan anak yatim di kampung tersebut, matanya langsung nanar dan berkaca-kaca. Mereka menjadi terbata-bata untuk berbicara. Konflik berkepanjangan melanda Aceh, mengorbankan banyak nyawa. Banyak anak-anak yang menjadi yatim, dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah, khususnya di daerah-daerah terpencil. 

Pernah setiap lebaran, diakui warga setempat, ada santunan dibagikan untuk anak yatim melalui wadah berkumpul bekas Kombatan GAM, tapi sering uang yang diterima tidak cukup, biasanya mereka masing-masing kebagian Rp 100.000 untuk Meugang. Meugang adalah tradisi memasak daging di Aceh, jelang hari raya. 

"Tapi anak kecil itu, dengan uang segitu jangankan untuk beli daging sapi, daging ayam saja nggak dapat. Terpaksa beli ikan bandeng, sekitar sekilo. Anak-anak lain makan daging. Cukup sedih," kenang salah seorang pria paruh baya, tak kuasa menahan air mata.

  • Istri Din Minimi, Lisnawati saat ditemui di kediamannya. (Arinal Huda/ Objektif ID)


Menurut Lisnawati, Istri Din Minimi, Din memang sangat sensitif jika berhubungan dengan masalah anak yatim.

Kisah saudara dekatnya, setiap jelang lebaran, Nurdin selalu bela-belain keluar rumah hingga lewat tengah malam untuk mencari uang guna mencukupi kebutuhan anak yatim di daerahnya.

Mungkin, sebut istrinya, itu dilatarbelakangi karena sebelumnya Din Minimi juga adalah seorang anak yatim korban konflik. Kuburan ayah Nurdin, yang juga Kombatan GAM dengan nama alias Abu Minimi hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya.

"Bukan kalau tidak di kuburan, nggak sampai doa kita, dimana pun kita duduk sampai doa kita. Tapi kemuliaan tubuh. Kita duduk di kuburan, baca Yasin. Kita nggak ada, cuma berdoa saja. Sakit terus. Kecewa," tutur Din Minimi, lirih, sambil mematikan api rokok, dan menginjaknya.

Seperti diketahui, tepat dua hari setelah turun gunung, Din Minimi bersama kelompoknya, langsung menggelar jamuan makan siang bersama 300 anak yatim. Itu agenda utamanya. 

Anak yatim ini kabarnya diundang dari dua kecamatan di Aceh Timur, yakni Kecamatan Indra Makmue dan Julok. Ada dua ekor sapi yang disembelih. Banyak yang terheran-heran, dari mana Bang Din mendapatkan uang. 

"Kaya raya dia, dari mana dapat duit begitu banyak. Padahal dia orang miskin. Aneh," tulis salah seorang Facebookers mengomentari berita di media online terkait kegiatan santunan tersebut.

Guna menjawab rasa penasaran itu, saya menanyakan pada Din Minimi. Apa benar itu uang hasil rampokan selama pegang senjata seperti yang dituduhkan?

Dengan ceplas-ceplos dia langsung membeberkan. "Dana dari bapak (Sutiyoso) dulu, (diberikan) ketika hendak pulang. Rp 100 (juta). Saya bagi ke anggota, masing-masing Rp 2 (juta) setengah. Lebihnya saya kenduri," ungkapnya.

Tapi salah satu eks kombatan GAM, yang mengaku rekan seangkatan saat bai'at (sumpah) ketika masuk GAM meragukan kemurnian perjuangan Din Minimi. Dia menduga ada motivasi lain.

Kelompok seperti ini bukan hanya Din Minimi cs, tapi ada beberapa kelompok yang juga bersenjata dan mulai menjamur di beberapa daerah di Aceh. Ada pula yang mengatasnamakan kelompok pecahan Din Minimi, baru-baru ini yang mulai santer mengatasnamakan dirinya sebagai kelompok TRAK (Tentara Keadilan Rakyat Aceh).

****

  • Empat anggota Din Minimi (baju tahanan biru) saat ditemui di Rumah Tahanan Idi Rayeuk, Aceh Timur (15/1/2016). (Arinal Huda/ Objektif ID)

Di balik jeruji besi Rumah Tahanan (Rutan) Idi Rayeuk, Aceh Timur saya bertemu Syukriadi alias Gambit (35), pemimpin kelompok bersenjata Aceh pertama pascadamai sebelum Din Minimi cs. Di sini pula saya bertemu empat anggota Din Minimi, yaitu; Mujibur alias Adun, Junaidi alias Arab, Nurdin alias Apa Do, dan Yusnaidi alias Lem Pup. Mereka dihukum bervariasi, antara dua sampai delapan tahun.

Di tempat yang sama, tahanan lain membuka bajunya lalu memperlihatkan parut sedikit lebih besar dari telapak kaki bayi menjorok ke dalam menganga di punggung bagian kanan atas. Ia sering dipanggil Gam Bit.

"Ini bekas luka tembak ketika konflik, satu lagi di bagian paha sebelah kanan," ujar Gam Bit sambil menyibak baju keatas menunjukkan bekas luka.

Beda dengan Din Minimi yang dikenal kebal peluru. Namun, Din juga mengaku heran mengapa dia bisa kebal. Tapi yang pasti, pernah beberapa kali dites tembak menggunakan senjata jenis M16 dan SS1, namun tidak mempan.

"Cuma lembam dan biru, jatuh dengan Minimi waktu di Tangse" ungkap Din. Namun ketika ditanya apakah dia punya jimat atau sihir, suami Lisnawati ini mengaku tidak punya. "Kalau sihir, nggak bisa ke masjid kita," ujarnya, tertawa kecil. "Saya nggak tahu, itu urusan Allah. Tapi saya tidak mengandalkan kebal," tambahnya.

Sementara Gambit, luka di bagian punggung itu membekas, sama seperti rasa kecewanya pada elit GAM. Dia merasa tak diperhatikan, seperti anak ayam kehilangan induknya. Tak ada dari pihak GAM yang datang menjenguk, ketika dirinya dilarikan ke Rumah sakit.

  • Parut luka tembak masih membekas di pungguh Gam Bit. (Alkausar/ Objektif ID)

Saat itu, kisahnya, paha bekas luka tembak tiba-tiba membengkak besar akibat infeksi, disusul panas tinggi. Hanya keluarga yang merawatnya. Mulai saat itulah dia merasa sendiri dan ditinggalkan.

Padahal banyak teman seperjuangannya kini hidup sejahtera, sukses menduduki banyak jabatan strategis di lingkup pemerintahan. Sebagian lagi jadi kontraktor karena dekat penguasa. "Yang kaya bertambah kaya, yang miskin semakin miskin," katanya.

Paha itu membengkak, kata Gambit, karena pascadamai Gambit melakukan kerja-kerja berat yang menuntutnya banyak berdiri, sehingga sangat membebani paha yang sudah rentan. Dia bekerja serabutan, mulai dari tukang panggul, tukang pengatur jalan proyek, hingga tukang potong rumput.

Pernah beberapa kali dia mencoba mencari pekerjaan lain, tapi gagal. Bagi seorang bekas kombatan seperti dirinya, tentu tak mudah mendapat pekerjaan. Dia nyaris kehilangan harapan hidup. Puncaknya, ketika permohonan kerjanya untuk menjadi penjaga alat berat salah satu proyek ditolak.

"Kata mereka nggak apa-apa nggak dijaga. Kesal, makanya saya bakar (alat berat) biar ada apa-apa," ujarnya.

Setelah kejadian itulah dia memutuskan untuk mengambil kembali senjata laras panjangnya, yang selama ini disembunyikan di belakang lemari. Sejak saat itu, Gambit mulai ramai diberitakan melakukan sejumlah aksi teror di Aceh. Dia mengaku, banyak eks kombatan yang minta bergabung. Namun ditolak.

Hanya satu orang yang menemaninya saat itu. Kini masih buron. Kepada kami, Gambit berjanji setelah masa tahanannya usai, sekitar enam bulan lagi, dia akan membujuk rekannya untuk menyerahkan senjata, dan kembali ke masyarakat. 

Di rutan yang sama, empat anggota Din Minimi yang kami temui kelihatan sumringah ketika mendengar kabar akan adanya pemberian amnesti. "Alhamdulillah," ujar mereka kompak. Ditengah obrolan, Gambit datang mengantar minuman. Dia juga mengaku gembira, meskipun kelompoknya tidak masuk dalam pemberian amnesti.

Namun raut wajah harap-harap cemas empat anggota Nurdin ini tak dapat disembunyikan, kalau-kalau mereka dilupakan dan tak mendapat amnesti. Namun Mujibur alias Adun optimis Pemerintah akan bersikap adil.

"Kami ingin lebih baik ke depan, dijauhkan dari kriminal, dan bisa mewujudkan cita-cita untuk mensejahterakan anak yatim, janda dan kombatan dibawah garis kemiskinan," harap Adun yang kini menjalani vonis delapan tahun penjara.

Sebab menurutnya, selama ini Pemerintah Pusat selalu punya itikad baik terhadap Aceh, tinggal pemerintah Aceh saja yang sering melanggar janjinya.

"Kalau kita lihat dipusat, nggak ada yang melanggar. Penuh diberikan untuk Aceh," lanjut Adun.

Din Minimi juga demikian, dia sangat yakin Pemerintah pusat tidak akan melanggar janjinya. "Pak Sutiyoso itu bukan orang sembarangan, ada empat bintang dan pernah jadi Gubernur. Nggak mungkin dia hari ini bilang A besok B. Dia orang yang dituakan di Indonesia. Kalau dia A, Presiden juga begitu. Nggak bolak-balik," ujar Din Minimi meyakinkan.

Di tempat terpisah, Din Minimi mengaku punya cita-cita khusus untuk para anggotanya, dia ingin dirinya bersama anggota punya rumah dalam satu komplek, guna memastikan anak buahnya tidak lagi terlibat dalam kasus teror dan tindak kriminal. Sehingga tidak ada lagi kelompok-kelompok bersenjata dan pelaku tindak kriminal yang mengaku-ngaku anggotanya. 

"Kita usaha carikan pekerjaan, supaya setiap pagi keluar, sorenya pulang bisa kita pantau dalam satu komplek rumah," kata Din.

Belakangan, Abu Rimba dari kelompok yang mengatasnamakan TRAK (Tentara Rakyat Aceh Keadilan) juga disebut-sebut pecahan Din Minimi. Memang, sebelumnya kata Kepala BIN Sutiyoso, masih ada tiga anggota Din Minimi yang sudah putus kontak dan belum menyerahkan senjata. Tapi menurut Din Minimi, Abu Rimba bukan bagian dari kelompoknya. Menurut Din, dua dari tiga anggota yang terpisah itu kini sudah diketahui keberadaannya. Dan kedua-duanya kini tidak lagi bersenjata, sudah diserahkan ke Kodim Bireun. 

Kontak terakhir, dua anggotanya itu saat ini tengah berada di Malaysia. Hanya si Dedi alias Belot yang belum diketahui keberadaannya.

"Ban-ban nyoe na ku kirem ureung keudeh u Malaya. Na jih ideh di Malaya, di jalan Haluan," ujar Din. (Baru-baru ini ada saya kirim orang ke Malaysia. Ada di sana mereka di Malaysia, di Jalan Haluan).

Din Minimi memang sudah turun gunung, tapi kini muncul lagi kelompok TRAK pimpinan Abu Rimba nama alias dari Maimun, yang juga mengaku bekas kombatan GAM. Kelompok yang beranggotakan 40 orang ini juga adalah kelompok yang kecewa pada elitnya yang kini memimpin Aceh, yakni Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf. Mereka juga bersenjata. 

***
Ibu-ibu secara berkelompok masih terlihat hilir mudik dari rumah Din Minimi. Padahal waktu itu, sudah lebih dari dua pekan Nurdin dan teman-temannya turun gunung. 

"Sampai sekarang masih ada saja orang yang datang berkunjung," ujar Ismail, warga setempat.

Mereka datang dari berbagai desa untuk 'peusijuek' Din Minimi. Sebagian adalah saudara dan kerabatnya. Peusijuek adalah tradisi Aceh yang bermakna penyejuk. Salah satu ritual adat dengan memercikkan air menggunakan kuas tangkai dan dedaunan, lalu menaburi tepung tawar dari beras warna-warni, melingkar ke atas tubuh orang yang hendak di-Peusijuek . Dalam prosesi itu, diiringi pula bacaan doa sebagai bentuk penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa. Ritual adat ini lazim dilakukan pada saat prosesi pernikahan, sunat rasul, penyelesaian sengketa, menggunakan rumah atau kendaraan baru, pulang haji atau umroh, dan lainnya. 

"Dulu tendanya sampai ke sana, cuma sudah dibongkar tinggal dua tenda saja, karena tetangga mau ada hajatan," ujar Ali, warga setempat saat berbincang dengan kami.

Di atas nampan bundar berdiameter kurang lebih 40 cm buleukat (nasi ketan) dengan ragam hiasan diatasnya diantarkan ke rumah Din Minimi.

"Kami dari Alue Mirah," ujar salah seorang Ibu dari rombongan yang datang Peusijuk Din Minimi.

"Lindungilah dia ya Allah, semoga disukeskan dia di dalam perjuangan," timpal yang lainnya.
Din Minimi memantik rokok, lalu menghisap dalam-dalam, baru kemudian melanjutkan obrolannya dengan kami. Sesekali dia terlihat asik memantik-mantik korek birunya seperti tengah memikirkan sesuatu. Lalu bangun dan mengulurkan tangan, bersalaman menyambut tamu.

Ia mengaku punya cita-cita khusus untuk para anggotanya. Dia ingin punya rumah, dimana dalam satu komplek bersama anggotanya. Keinginan itu bukan tanpa alasan, dia ingin memastikan anak buahnya tidak lagi mudah dituduh terlibat dalam kasus teror dan tindak kriminal. Dan tidak ada lagi kelompok-kelompok bersenjata dan pelaku tindak kriminal yang mengaku-ngaku anggotanya. 

"Supaya setiap pagi keluar, sorenya pulang bisa kita pantau dalam satu komplek rumah. Lalu kita carikan pekerjaan yang pas untuk mereka," kata Din.

Memang belakangan, ada lagi kelompok bersenjata yang disebut-sebut pecahan Din Minimi, yaitu TRAK (Tentara Rakyat Aceh Keadilan) pimpinan Abu Rimba. 

Kepala BIN Sutiyoso sebelumnya sempat menyebutkan bahwa ada tiga anggota Din Minimi yang sudah putus kontak dan memisahkan diri. Tapi menurut Din Minimi, Abu Rimba bukan bagian dari kelompoknya. 

Sementara dua dari tiga anggota yang terpisah itu, kepada kami Din Minimi mengaku sudah mendapat kabar keberadaan mereka. Din memastikan kedua anggotanya itu kini tidak lagi bersenjata. Sudah diserahkan ke Kodim Bireun. 

Kontak terakhir, dua anggotanya itu saat ini tengah berada di Malaysia. Hanya si Dedi alias Belot yang belum diketahui keberadaannya.

"Ban-ban nyoe na ku kirem ureung keudeh u Malaya. Na jih ideh di Malaya, di jalan Haluan," ungkap Din. (Baru-baru ini ada saya kirim orang ke Malaysia. Ada di sana mereka di Malaysia, di Jalan Haluan)
Kelompok bersenjata TRAK pimpinan Abu Rimba yang mengaku memiliki kesamaan perjuangan dengan Din Minimi diketahui kini beranggotakan 40 orang. Kelompok bentukan eks kombatan GAM ini mengaku tidak akan menyerah, sampai tuntutan mereka benar-benar dipenuhi.

Memang, diakui Safaruddin Direktur YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh), konflik yang berkepanjangan di Aceh telah menyebabkan kemiskinan luar biasa. Banyak korban harta benda. Perlu pendekatan kesejahteraan untuk menekan timbulnya kembali kelompok bersenjata ini. Bukan pendekatan militer atau kekerasan. Salah satunya yang terpenting adalah membentuk komisi Klaim.

  • Ketua YARA Safaruddin, SH saat menyerahkan mesin jahit kepada salah seorang istri anggota Din Minimi. (IST)


"Selain KKR untuk mengungkap pelanggaran HAM, ada yang lebih penting lagi, yaitu komisi Klaim. Setidaknya di masa damai ini masyarakat bisa mendapatkan kembali harta benda mereka yang telah hilang di masa konflik," ujarnya, sembari membolak-balik koran pagi lokal di kantornya.

Konon, eks kombatan lain, yang tidak setuju dengan perjanjian damai dan masih tetap menginginkan merdeka juga tidak sedikit. Baik dari dalam maupun luar negeri, yang sewaktu-waktu juga bisa kembali angkat senjata.

Gerakan bersenjata hilang silih berganti di tanah ini. Sebelum kemerdekaan Indonesia, lebih dari 100 ribu pasukan Belanda tewas di Serambi Mekah.

Dimulai dengan tewasnya Jenderal J.H.R. Kohler oleh penembak jitu Aceh pada tahun 1873. Walhasil, makam Belanda Kherkhof yang berdampingan dengan Museum Tsunami Aceh menjadi makam tentara Belanda terbesar di dunia di luar Belanda. Korban yang tidak sedikit  juga merenggut rakyat Aceh. Belum lagi jika menilik konflik bersenjata setelah kemerdekaan Indonesia. Kapan gejolak ini akan berakhir?

Yang pasti, nyanyian perang masih bersenandung di tanah ini, menjadi lagu penghantar tidur anak-anak Aceh.

Allah hai do...doda-idang...
(Tidak ada arti secara harfiah, semacam ninabobo-ninabobo)
Seulayang blang ka putoh talo...
(Layang-layang sawah sudah putus tali)
Beurijang rayeuk muda seudang...
(Cepatlah besar, anak muda)
Tajak bantu prang ta bela Nanggroe...
(Kita bantu perang, kita bela bangsa)...

Hingga tulisan ini diturunkan, belum diketahui secara pasti kapan amnesti resmi diberikan kepada Din Minimi dan anggotanya yang sebagian masih menjalani kurungan penjara.

Mantan Kepala BIN Sutiyoso yang dikonfirmasi juga tidak habis pikir kenapa pengajuan amnesti yang diinisiasi pada masa kepemimpinannya dulu, mandek hingga saat ini.

"Sudah tiga tahun belum turun amnestinya. Padahal itu janji kita kepada mereka," kata Sutiyoso yang akrab disapa Bang Yos ini.

"Sebelumnya semua GAM juga diberi amnesty. Seharusnya Din Minimi juga. Mandeknya dimana proses ini, aku juga tidak ngerti," sambung Bang Yos, yang kini didapuk sebagai Komisaris Utama salah satu BUMN.

Senada, Ketua YARA Safaruddin yang sempat aktif memberi bantuan advokasi kepada Din Minimi dan anggotanya juga pasrah. Hingga saat ini belum diketahui sudah sampai mana prosesnya.

"Hana Jelas (Enggak Jelas)," pungkasnya singkat. 

TAMAT.