Banjir Hoax, Wakil Ketua MPR: yang Bikin Jahat, yang Sebar Bodoh, yang Percaya Goblok - Berita Bagus

Mobile Menu

Powered by Blogger.

More News

logoblog

Banjir Hoax, Wakil Ketua MPR: yang Bikin Jahat, yang Sebar Bodoh, yang Percaya Goblok

9/17/2018
Menghadapi pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg), Mahyudin berharap seluruh warga Kabupaten Trenggalek agar menjaga perdamaian.

"Dulu presiden dipilih MPR, ngga dipercaya rakyat, karna dianggap ada dipasang orang-orangnya penguasa. Kemudian kita atur supaya dipilih langsung oleh rakyat. Sekarang dipilih langsung oleh rakyat malah ribut," kata Mahyudin di Trenggalek, Senin (17/9).

Ia lantas menyentil perdebatan di sosial media soal bahasa yang digunakan dalam debat kandidat nanti. "Ini ada yang mau debat bahasa Inggris, emang mau jadi presiden Inggris apa. Trus sekarang malah dibalas ajak debat bahasa Arab, emang mau jadi presiden Arab apa. Sudah lah pakai bahasa Indonesia aja, bahasa pemersatu kita," ujarnya.

"Intinya, mau siapa pun yang nanti terpilih sebagai presidennya. Mau itu Prabowo atau Jokowi biasa sajalah. Memangnya kalau salah satu dari mereka yang jadi presiden ada yang antar beras ke rumah kalian? Gak ada. Jadi ngapain berantem ?," paparnya.

Ditegaskan Mahyudin pula, pihaknya sebagai salah satu pimpinan MPR berharap, siapa pun yang terpilih sebagai presiden dalam Pilpres April tahun depan. Maka presiden terpilih bisa membuat rakyat Indonesia sejahtera, aman, dan damai.

"Dan kalian sebagai pemilih silakan beradu argumentasi, jangan malah berantem. Kalau gak suka sama Prabowo atau Jokowi yah jangan dipilih. Gak usah pake ngotot ngototan apalagi pake berantem. Rugi kalian," tutur Mahyudin yang politisi Partai Golkar ini.

Dalam kesempatan itu ia juga mengungkapkan banyaknya berita bohong alias hoax yang marak di tahun politik ini. Mahyudin lantas meminta warga agar selalu tabayyun setiap menerima kabar berita.

"Begini ya, hoax itu yang bikin penjahat, yang sebarkan hoax orang bodoh, dan yang mempercayai hoax itu orang goblok. Makanya setiap menerima kabar berita harus dicek kebenarannya. Tabayyun dululah," tandas Mahyudin. (*)