Powered by Blogger.

Mobile Menu

Advertisement

Update

logoblog

Peraih Medali Emas Karate Sempat Muntah Darah

31 August 2018
Siapa sangka, kemunculan  Rifki Ardiansyah Arrosyiid untuk pertama kali di ajang Asian Games langsung menyedot perhatian publik. Ia menyegel medali emas di cabang olahraga karate di nomor kumite 60 kilogram.

Padahal, ketika seleksi pertama yang dilajukan PB Forki, Ia hanya menduduki rangking ketiga alias cadangan. Prajurit TNI-AD berpangkat Sersan Dua ini pun tak pernah menarget emas.

"Jelang pertandingan saya memang agak tegang. Kemudian saya shalat untuk menenangkan diri. Habis shalat saya berdoa; 'ya Allah berikan yg terbaik buat saya dan bangsa saya. Saya doa buat yang terbaik aja'. Nggak harus menang. Saya nggak target emas," ungkapnya ketika berbincang dengan IstanaPos.com di Rumah Indonesia, Kuningan Jakarta.


Apalagi tiga hari sebelum laga laga, ungkap Rifki, Ia sempat mengalami cedera parah. Rahang sebelah kirinya mendapat tendangan saat menjalani latihan. Ketika itu, Ia harus dilarikan ke rumah sakit.

"Tiga hari sebelum Asian Games, sempat kena rahang kiri. Sempat muntah darah. Langsung dibawa ke rumah sakit terdekat," kata Rifki.

"Sekarang masih robek. Dan masih terasa sakit hingga pertandingan," lanjutnya.

Terjun ke dunia karate, kisah Rifki berawal dari kekhawatiran orang tua yang melihatnya sering berantem. Karena itu Ia kemudian sejak umur tujuh tahun langsung dilatih karate.

"Dari kelas satu SD, umur tujuh tahun disuruh berlatih karate. Karena dulu suka bergelut, makanya masuk Karate biar nggak nakal," cerita Rifki. 

"Kalau ada masalah pasti sering berantem. Apalagi waktu SMP sampai SMA saya kan bonek (bondo nekat,red) juga," lanjut dia, tersenyum.

Kendati demikian, skill karatenya terus diasah. Ia mulai mengikuti sejumlah kejuaraan sejak usia 10 tahun. "Usia 10 tahun sampai 11 tahun sudah ikut kejuaraan," tandasnya.

Atas keberhasilannya meraih medali emas, selain diguyur bonus Rp1,5 milyar dari pemerintah, Ia juga mengaku dijanjikan bonus dari dompet pribadi ketua umum PB Forki Gatot Nurmantyo sebanyak Rp1,5 milyar.

"Nanti 2,5 persennya saya zakatin ke panti asuhan, kemudian saya pengen naikan haji kedua orang tua," pungkasnya. (*)