Powered by Blogger.

Mobile Menu

Advertisement

Update

logoblog

Mereka Kalah Pilkada

13 November 2016

Semua  kandidat punya rencana dan program jika mereka terpilih jadi gubernur Jakarta. Tapi apakah mereka punya rencana dan program untuk dirinya jika kalah di Pilkada? Saya tidak bermaksud meramal tapi hanya mencoba melihat kecenderungan-kecenderungan.

Jika Ahok kalah maka sangat mungkin ia akan diangkat jadi menteri oleh Jokowi atau paling minimal komisaris atau Direksi BUMN raksasa. Kenapa demikian? Karena Ahok punya segudang pengalaman, pernah jadi anggota DPR RI, pernah jadi Bupati dan Gubernur. Artinya Ahok paham bagaimana mengelola birokrasi, membangun sana-sini, memberantas korupsi dan membangun disiplin kerja para birokrat. Tentunya aset seberharga Ahok sangat tidak mungkin di sia-siakan.

Kalau Anies Baswedan kalah maka karena ia pernah jadi rektor universitas dan mantan menteri pendidikan bisa jadi ia akan kembali ke dunia akademis, atau dengan bekal pengalamannya maka ia bisa menjadi pengamat politik atau konsultan politik atau membuat lembaga kajian. Paling buruk dengan pengalamannya Anies bisa membuat Biro Jasa Bimbingan dan Pengetikan Skripsi.

Nah kalo Agus Harimurti kalah bagaimana? Pengalaman Politik tidak ada, pengalaman bisnis tidak ada, pengalaman birokrasi tidak ada, pengalaman jadi akademisi juga tidak ada. Kalau Agus mau berpolitik pangkat terakhir hanya Mayor, sementara politisi dari mantan militer biasanya berpangkat Jenderal.

Kalau kita lihat umumnya mantan militer yang pensiun dengan pangkat Mayor kebawah banyak yang mendirikan biro jasa keamanan. Apakah Agus akan memilih bidang itu? Kalau syarat rasanya mencukupi.

Satu satunya yang bisa menolong Agus jika kalah di Pilkada Jakarta ya ketika SBY sebagai orang tua turun tangan dan mengangkat Agus duduk di DPP Partai Demokrat berbagi peruntungan dengan adik kandung nya Ibas yg sekarang sudah menjadi ketua Fraksi Demokrat.

Dari tiga kandidat Gubernur DKI itu, yang agak suram masa depannya jika kalah sepertinya hanya Agus Harimurti. Karena itu maka jangan heran jika SBY merasa perlu turun langsung dari bicara galak dalam wawancara, menggunakan semua ilmu politik, logistik dan jaringannya untuk memenangkan Agus. Kata banyak orang, kalau anak kandung lagi terjepit maka Orang Tua bisa dipastikan akan membantu dengan segala cara, dalam hal ini mungkin menggunakan aksi politik hingga jangan jangan bisa saja aksi jalanan juga di gunakan.

Kalau dilihat kemungkinan di atas maka perjuangan SBY saat ini bisa di bilang  lebih condong untuk  memastikan masa depan anak nya di bandingkan memikirkan masa depan Jakarta apalagi Indonesia.

Catatan :
_Tulisan ini disebarkan orang-orang dapat PAKAI komputer juga dapat PAKAI Smartphone dan dapat PAKAI Televisi, Radio dan lain lain_

(kata *PAKAI* jangan di hapus yaaa nanti maknanya berubah)

Penulis: Adian Napitupulu
Politisi PDI-Perjuangan