Powered by Blogger.

Mobile Menu

Advertisement

Update

logoblog

Elite Politik Suka Lupa 4 Pilar

26 October 2016

IstanaPos-com- Ketua Badan Sosialisasi MPR Achmad Basarah menyayangkan banyak elit politik lupa dengan nilai-nilai 4 Pilar ketika terjebak dalam suksesi perebutan kekuasaan, misalnya di pilkada dan pilpres.
       
Basarah mengatakan, pada tataran wacana, sosialisasi 4 Pilar yang dibiayai APBN dikampanyekan dengan antusias oleh para elite politik. Mereka semua berbicara tentang perlunya kita semua memegang teguh nilai-nilai konsensus dasar negara tersebut.

"Namun, ketika mereka terjebak dalam suatu perebutan kekuasaan politik tertentu kadang kala membuat mereka lupa dengan nilai-nilai 4 Pilar tersebut," katanya dalam acara Sosialisasi 4 Pilar MPR di Gedung Universitas Terbuka, Kota Bogor Jawa Barat, kemarin.

           
Politisi PDIP bilang, salah satu momen yang sering membuat elite politik melupakan nilai-nilai luhur Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika adalah momen Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah (Pilkada).
               
Anggota Komisi III ini mencontohkan, pada Pilpres 2014 lalu, elite politik dan kelompok masyarakat banyak yang terjebak mengkampanyekan isu anti SARA atau setidak tidaknya mendiamkan kampanye anti SARA.

"Demikian juga kita perhatikan dalam Pilkada DKI Jakarta, isu tentang anti SARA mendominasi seputar pemilihan Cagub dan Cawagub DKI daripada kompetisi gagasan dan program  untuk membangun kota Jakarta," sesalnya.
             
Dijelaskannya, aksi-aksi diskriminatif atas nama ikatan primordial seperti suku,agama, ras dan golongan (SARA) sebenarnya tidak lagi relevan ketika dibenturkan dalam konsep berbangsa dan bernegara. Loyalitas primordial hendaknya sudah berubah menjadi loyalitas nasional ketika bersepakat membentuk negara.

Kesadaran kebangsaan yang mengkristal yang lahir dari rasa senasib sepenanggungan, akibat penjajahan, telah berhasil membentuk wawasan kebangsaan Indonesia seperti yang tertuang dalam Sumpah Pemuda 1928, yaitu bertekad bertanah air satu, berbangsa satu dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.

"Saya sangat menyayangkan dalam situasi bangsa yang tengah menghadapi propaganda anti SARA seperti  ini banyak elite politik yang tidak mau lagi bicara dan memberi teladan tentang nilai-nilai 4 Pilar sebagai konsensus dasar bernegara kita," kata Ketua Presidium Alumni GMNI ini.

Oleh karena itu, Basarah mengusulkan, kepada Pimpinan MPR untuk mengambil prakarsa dan mengajak pimpinan lembaga-lembaga negara dan pimpinan partai politik serta ormas-ormas sosial keagamaan duduk bersama, melakukan rembug nasional untuk menghentikan segala macam pertentangan dan propaganda SARA karena situasi semacam ini sungguh-sungguh telah mengancam keutuhan dan keberlangsungan hidup NKRI yang berdasarkan Pancasila. "SARA tidak lagi relevan," pungkasnya.